Tampilkan postingan dengan label Yapma_mks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yapma_mks. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 November 2008

Asuhan Keperawatan Denganengan Gangguan System Endokrin DM Tipe II

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keperawatan adalah sebagai bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasari pada ilmu keperawatan dan unit keperawatan berbentuk pelayanaan bio, psiko, sosial, spiritual, dan komprehensif serta ditujukan pada individu keluarga dan masyarakat, baik sakit maupun yang sehat (A. Aziz Alimaul Hidayat. 2004, hal 14).
Menurut data Organsasi Kesehatan Dunia (WHO). Indonesia menempati keenam di dunia sebagai negara dengan jumlah penderita Diabetes Mellitusnya terbanyak setelah India, China. Uni Sovyet, Jepang dan Brasil. Tercatat pada tahun 2000 jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 8,4 juta (19%) penderita diabetes mellitus. Angka ini akan meningkat terus di mana tahun 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta (2,8%) menderita diabetes. Untuk itu, dianjurkan agar mengenali sedini mungkin diabetes mellitus yakni dengan mengenal faktor-faktor resiko terjadinya penyakit tersebut.
(http.//ayosz.wordpress.com/data/diabetes-mellitus).
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang menyerang lebih 12 juta orang 7 juta dari 12 juta penderita diabetes mellitus tersebut sudah terdiagnosis, di Amerika Serikat kurang lebih 650.000 kasus DM didiagnosis setiap tahunnya.
Di Indonesia jumlah penyakit diabetes mellitus berkisar antara 1,4% dengan 1,6 diabetes mellitus kecuali di dua tempat yaitu Semarang 2,3% atau 2022 dan di Manado 6,1 atau 2101 orang.
Prevalensi DM pada penelitian di Indonesia
Kota Tahun Jumlah Umur Skrining Prevalensi %
Semarang 1975 1.571 14 + Urin 1,46
Pekajangan 1979 2.822 25 + Urin 2,3
Surabaya 1980 9.703 20 + Urin 1,37
Makassar 1981 2.720 16 + Urin 1,50
Jakarta 1982 2.704 15 + Plasma 1,6
Padang 1984 1.088 12 + Urin 1,5
Manado 1986 2.107 20 + Darah 6,1
Jakarta 1993 1.013 15 + Plasma 5,6

Menurut catatan medical record R.S. Dr. Wahidin Sudirohusodo jumlah penderita DM dari tahun 2007 sampai pertengahan tahun 2008 tercatat 55 orang, untuk umur 25-44 tahun 42 orang atau 11,8%, umur 45-64 tahun 245 orang atau 69,1% dan umur 65 tahun ke atas 68 orang atau 19,1% di mana perempuan lebih banyak menderita DM yaitu 206 orang atau 58,1% dibandingkan laki-laki hanyak 149 orang atau 41,9%.
B. Tujuan Penulis
1. Tujuan umum
Memperoleh informasi atau gambaran nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem “Diabetes Mellitus” di ruang perawatan interna lontara I Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar.
2. Tujuan Khusus
a. Memperoleh pengalaman nyata pengkajian keperawatan ada pasien Diabetes Mellitus
b. Memperoleh pengalaman nyata tentang perumusan diagnosa keperawatan pada pasien Diabetes Mellitus.
c. Memperoleh pengalaman nyata tentang rencana keperawatan pada pasien Diabetes Mellitus.
d. Memperoleh pengalaman nyata tentang pelaksanaan tindakan keperawatan pada pasien Dabetes Mellitus.
e. Memperoleh pengalaman nyata tentang evaluasi keperawatan pada pasien Diabetes Mellitus.

C. Manfaat Penulisan
1. Pendidik
Dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi institusi dalam peningkatan mutu pada masa akan dating.

2. Rumah Sakit
Dapat memberikan bahan masukan bagi rumah sakit untuk mengambil langkah-langkah kebijakan untuk meningkatakan mutu pelayanan keperawatan pada umumnya, penerapan dengan diabetes mellitus.
3. Perawat
Menjadi bahan masukan bagi tenaga perawat dalam penerapan asuhan keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan.
4. Klien dan keluarga
Dapat memberikan pengetahuan kepada klien tentang penyakit Diabetes Mellitus, pencegahan dan perawatan secara sini sebelum timbul komplikasi
5. Masyarakat
Menambah pengetahuan masyarakat tentang apa dan bagaimana penyakit Diabetes Mellitus itu.

D. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam karya tulis ini adalah
1. Studi Kepustakaan.
Membaca dan mempelajari literatur-literatur yang ada relevansinya dengan karya tulis ini antara lain buku dan catatan kuliah.



2. Studi Kasus
Untuk studi kasus perawatan maka pendekatan yang digunakan adalah proses keperawatan komprehensif yang meliputi pengkajian data, penetapan diagnosa, penyusunan evaluasi.
3. Studi Dokumenter.
Data-data yang didapat dari status klien di ruang catatan perawatan, instruksi dokter dari tim kesehatan lain.

E. Tempat
Tempat pelaksanaan studi kasus dilakukan di ruang perawatan interna atas di Lontara I RS. DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar.

F. Waktu Pelaksanaan
Tempat studi kasus mulai tanggal 14 Juli sampai 16 Juli 2008 melengikapi data/informasi dalam pengkajian digunakan teknik:
a. Wawancara
Untuk mendapatkan data yang lebih lengkap tentang masalah yang timbul pada klien, dilakukan dengan cara auto anamnese dan allo anamnese.
b. Observasi
Melakukan observasi langsung kepada pasien Diabetes Mellitus dan juga mengganti perubahan yang terjadi pada klien.

G. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dalam penyusunan karya tulis ini, maka penulis memakai sistem penulisan sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Yang memuat tentang latar belakang, tujuan, penulisan, manfaat penulisan metode penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN TERORITIS
Pada bab ini dibahas tentang pengertian, anatomi fisiologi, insiden, etiologi, Patofisiologi, manifetasi klinik, komplikasi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan, selain itu pada bab ini akan dibahas konsep keperawatan yang terdiri dari data dasar, KDM, diagnosa keperawatan, data pendukung, tujuan, serta tindakan keperawatan.
BAB III : TINJAUAN KASUS
Pada bab INI akan diuraikan tentang pengkajian data, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
BAB IV : PEMBAHASAN
Pada bab ini diuraikan tentang inti dan penulisan yang bertujuan untuk membandingkan antara teori dan fakta yang ditemukan di lapangan praktek.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini disimpulkan hasil pelaksanaan studi kasus yang dilaksanakan dan berisi saran-saran/pesan penulis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar
1. Pengertian
a. Diabetes Mellitus (DM) dari kata Yunani, diabalnein “tembus” atau “pancuran air” dan kata latin mellitus, “rasa manis” yang umumnya dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah yang terus menerus dan bervariasi, terutama setelah makan). Sumber lain menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan diabetes mellitus adalah keadaan diperglikemia kronik disertai berbagai kelamin metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membrane basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron. (http.//ayosz.wordpress.com/data/diabetes-mellitus).
b. Diabetes Mellitus adalah keadaan hiperglikemia disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonalm yang menimbulkan sebagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah disertai lesi dalam membrane basalis dalam pemeriksaan mikroskop editron (Mansjoer A, 2001 hal. 580).
c. Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit yang kronik dan kompleks yang mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, lemak dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrovaskuler dan neurologist (Garbara C Long, 1996).

2. Anatomi Fisiologi
a. Anatomi











Gambar : Pankreas
b. Fisiologi
Orang dengan metabolisme yang normal mampu mempertahankan kadar glukosa antara 70-110 mg/dl (englikemia) dalam kondisi asupan makanan yang berbeda-beda. Pada orang non diabetes, kadar glukosa darah dapat meningkat antara 120 sampai 140 mg/dl setelah makan (postrantial), namun keadaan ini akan kembali menjadi normal dengan cepat, sedangkan kelebihan glukosa darah diambil dari darah dan disimpan sebagai glikogen dalam hati dan sel-sel otot (glikogenesis). Kadar glukosa darah normal dipertahankan selama keadaan puasa karena dilepaskan dari cadangan-cadangan tubuh, dan glukosa yang baru dibentuk dari asam amino, laktat dan gliserol yang berasal dari trigliserida (glikoneogenesis), normalisasi glukosa darah diatur oleh hormone-hormon.
Dari lima hormon yang terlibat dalam regulasi kadar darah, hormone pankreas, insulin merupakan satu-satunya hormon yang menurunkan glukosa darah (glukagen, growth hormone, epinphrin, dan glukokortikoid semuanya meningkatkan kadar gula darah.
Pankreas adalah kelenjar majemuk bertanda dan strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah yang panjangnya kira-kira 5 cm berat 60-100 gram. Letak pada daerah umbilical, di mana lekukan dalam lekukan deudonum dan ekornya membentuk kelenjar limpe, berfungsi mengekskresi insulin dan glukogen ke darah.
Pankreas terdiri dari tiga bagian
a. Kepala pankreas merupakan bagian paling besar terletak umbilical dalam lekukan deudenum.
b. Badan pankreas merupakan bagian utama organ itu letaknya sebelah lambung dan depan vertebra lumbalis pertama.
c. Ekor pankreas adalah bagian runcing sebelah kiri dan sebenarnya menyentuh limpa.
Pankreas terdiri dari dua jaringan utama yaitu:
a. Acini yang menyekresi getah pencernaan ke duodenum.
b. Pulau langerhans yang tidak mengeluarkan sekretnya, tetapi mengekresikan insulin dan glikogen langsung ke darah.
Pulau langerhans manusia mengandung 3 jenis sel utama yaitu: sel alfa, sel beta, delta yang satu sama lain dibedakan struktur dan sifat pewarnanya, sel beta mengekresi insulin, sel alfa mengkresi glukagon dan sel delta mengkresi somatostatin.
Fungsi pankreas ada 2, maka disebut organ rangka, yaitu:
a. Fungsi eksokrin, dilaksakan oleh sel sekretori obula yang membentuk getah pankreas berisi enzim dun eklotrolit, jenis-jenis enzim dari pankreas adalah:
1) Amylase : menguraikan tepung menjadi maltosa atau maltosa dijadikan polisakarida, dan polisakarida dijadikan sakarida kemudian dijadikan mono sakarida.
2) Tripsin : menganalisa peplon menjadi polipetida kemudian menjadi asam amino.
3) Lipase menguraikan lemak yang sudah diemulsi menjadi asam lemak dan gliserol gliserin.
b. Fungsi endokrin atau kelenjar tertutup berfungsi menbentuk hormon dalam pulau langerhans yaitu kelompok pulau-pulau kecil yang tersebar antara alveoli-alveoli pankreas terpisah dan tidak mempunyai saluran.
Oleh karena itu hormon insulin yang dihasilan oleh pulau langerhans langsung diserap ke dalam kapiler darah untuk dibawa ke tempat yang membutuhkan hormon tersebut. Dua hormon penting yang dihasilkan oleh pankreas adala insulin dan glikogen.
1. Insulin
Insulin adalah protein kecil yang berat molekulnya 5805 untuk manusia insulin terdiri dari dua rantau asam animo satu sama lain dihubungkan oleh ikatan disulfide. Sekresi insulin diatur oleh glukosa darah dan asam animo yang memegang peranan penting. Perangsang sekresi insulin adalah glukosa darah kadar glukosas darah adalah 80-90 mg/ml. Mekanisme untuk mencapai derajat pengontrolan yang tinggi yaitu:
a) Fungsi hati sebagai sistem buffer glukosa darah yaitu meningkatkan konsentrasi setelah makan. sekresi insulin juga meningkat sebanyak 2/3 glukosa diabsorbsi dari usus dan kemudian disimpan dalam hati dalam bentuk glikogen.
b) Sebagai sistem umpan balik maka mempertahankan glukosa normal.
c) Pada hypoglikemia efek langsung glukosa darah yang rendah terhadap hypotalamus adalah merangsang saraf simpatis untuk meningkatkan pelepasan glukosa ke dalam darah, sebaliknya epinefrin yang disekresikan oleh kelenjar adrealin masih menyebabkan pelepasan glukosa yang lebih lanjut dari hati juga membantu melindungi terhadap hypokilemia berat.
Adapun efek utama insulin terhadap metabolisme karbohidrat yaitu:
a) Menambah kecepatan, metabolisme glukosa
b) Mengurangi konsntrasi gula darah
c) Menambah penyimpangan glukosa ke jaringan

2. Glukagon
Glukagon adalah suatu hormon yang disekresikan sel-sel alfa pulau langerhans yang mempunyai beberapa fungsi yang berlawanan dengan insulin.
Fungsi yang terpenting adalah meningkatkan konsentrsi glukosa dalam darah. Glukagon merupakan protein kecil menpunyai berat molekul 3842 dan terdiri dari 29 rantai asam amino.
Pengaturan sekresi glukosa darah perubahan konsentrasi glukosa darah mempunyai efek yang jelas dibanding pada sekresi insulin, penurunan glukosa darah dapat menghasilkan sekresi glukagon, bila glukosa darah turun 70 mg/100 ml darah pankreas mengekskresi glukosa dan hati jadi glukagon membantu melindungi terhadap hiperlikemia.




C. Etiologi
a. Diabetes Mellitus tipe I (IDDM/tergantung insulin)
Seseorang dikatakan Diabetes tipe I, jika tubuh perlu pasokan insulin dari luar. Hal ini disebabkan karena sel-sel beta dan pulau-pulau langerhans telah mengalami kerusakan sehingga pankreas berhenti memproduksi insulin. Kerusakan sel beta tersebut dapat terjadi sejak kecil ataupun setelah dewasa. Serta kombinasi faktor genetik imunologi dan mungkin pada lingkungan misalnya infèksi virus diperkirakan turut menimbulkan dekstruksi sel beta.
1) Faktor genetik penderita diabetes tidak mewarisi suatu prediposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadi diabetes mellitus tipe I ditentukan individu yang memiliki tipe antigen HLA (Human Leukosit Antigen) tertentu.
2) Faktor imunologi terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. merupakan respon abnormal di mana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi dengan pada jaringan tersebut yang dianggap sebagai jaringan asing.
3) Faktor lingkungan : penyelidikan sedang dilakukan terhadap kemungkinan faktor eksternal yang dapat memicu destroksi sel beta.
Contoh : virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan deksroksi sel beta.

b. Diabetes Mellitus tipe I (NIDDM/ tidak tergantung insulin)
Diabetes tipe II terjadi jika insulin hasil produksi pankreas tidak cukup atau sel lemak dan otot tubuh menjadi kebal terhadap insulin, sehingga terjadi gangguan pengiriman gula ke sel tubuh. Biasanya orang yang terkena penyakit diabetes tipe ini yaitu orang dewasa.
c. Diabetes Mellitus yang berkaitan dengan atau sindrom lain
Disertai dengan keadaan yang diketahui atau dicurigai dapat menyebabkan penyakit pangkreatitis, kelainan tentang proses keperawatan yang mencakup (glukottikoid estrogen) bergantung pada kemampuan pankreas yang menghasilkan insulin pasien mungkin memerlukan terapi dengan obat oral atau insulin.
d. Diabetes Mellitus Gestational
Terjadi selama kehamilan, biasanya trimester ke-2 atau ke-3 disebabkan oleh hormone yang sekresikan plasenta dan menghambat kerja insulin.

4. Insiden
Diabetes mellitus dapat menimbulkan kecacatan yang permanent:
a) Kebutaan pada orang dewasa
b) Gagal ginjal dianalisa menderita diabetes militus.
c) 50-70 % amputasi non traumatik.
d) Meningkatnya resiko penyakit jantung koroner dan stroke.
“Klien dengan diabetes mellitus adalah dua kali akan beresiko penyakit jantung koroner dan tiga kali beresiko stroke”
- Diabetes tipe I (destruksi sel beta) umumnya menjurus ke defesiensi insulin absolute.
- Diabetes tipe 2 bervariasi terutama dominan resistensi insulin ditandai defesiensi insulin relatif terutama efek sekresi insulin.
5. Patofisiolgi
1. Tipe I (insulin dependent diabetes mellituss atau IDDM)
Diabetes mellitus tipe I adalah Insulin Dependen Diabetes Mellitus terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimum sehingga terjadi kekurangan insulin pada tubuh. Reaksi autoimunitas tersebar dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh pada umumnya menyerang individu yang berusia di bawah 30 tahun yang sering memperlihatkan tanda-tanda klasik:
(2) Poliuri
(3) Polidipsi
(4) Polipagi
(5) Penurunan BB dan kelelahan
(6) Kesemutan


2. Tipe II (Non insulin dependent diabetes mellituss atau NIDDM)
Terjadi karena kombinasi dari kecacatan dalam prdouksi insulin dan resistasi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifasi terhadap insulin yang melibatkan reseptor insulin dimembran insulin. Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Ada beberapa teori yang menyebutkan penyebab pasti dan mekanisme terjadinya resistensi ini, namun obesitas sentral diketahui sebagai faktor predisposisi terjadinya resistensi terhadap insulin, mungkin dalam kaitan dengan pengeluaran dari adipokinesis yang merusak tokransi glukosa.
Diabetes tipe II boleh pergi tak ketahuan bertahun-tahun dalam suatu pasien hasil diagnosa gejala yang kelihatan adalah secara khas lembut atau yang tidak ada tanpa ketoacidotic dan dapat sporadic. Bagaimana kesulitan yang menjengkelkan dapat diakibatkan oleh jenis tak ketahuan 2 kencing manis termasuk kegagalan yang berkenaan dengan ginjal, penyakit vaskuler (termasuk penyakit nadi/jalan utama serangan jantung).
Adapun faktor-faktor resiko yang berhubungan dengan proses terjadinya diabetes tipe II yaitu usia, abesitas, riwayat keluarga etnik.
(http.//ayosz.wordpress.com/data/diabetes-mellitus).

3. Diabetes mellituss gestasional (DMG)
Di mana terjadinya gangguan toleransi glukosa berbagai tingkat yang diketahui pertama kali saat hamil tanpa membedakan apakah penderita perlu mendapatkan insulin atau tidak. Pada kehamilan trimester pertama kadar glukosa akan turun antara 55-65% dan hal ini merupakan respon terhadap transportasi glukosa dari ibu ke janin. Sebagian besar DMG asimtomatis sehingga diagnosis ditentukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan rutin.

2) Gambaran Klinik
Gejala yang lazim terjadi, pada diabetes mellitus sebagai berikut
Pada tahap awal sering dikemukakan:
a. Poliuri (banyak kencing)
Hal ini disebabkan oleh kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serat ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotik diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolik sehingga penderita mengeluh banyak kencing.
b. Polidipsi (banyak minum)
Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan dari elektrolit banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbangi penderita lebih banyak minum.

c. Polipagi (banyak makan)
Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar).
d. Berat hadan menurun, lemas, lekas lelah, tenaga kurang hal ini disebabkan keliabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa, maka tubuh berusaha mendapat peleburan zat dari bagian tubuh yang lain yaitu lemak atau protein.
e. Nutrisi
Nutrisi merupakan ilmu yang mempelajari zat makanan. (Nutrient) dan zat-zat lain yang ada dalam makanan serta kerjanya, interaksinya dan keseimbangannya dalam hubungannya dengan kesehatan dan penyakit melalui proses ingesti, absobsi, tnansportasi, pemakaian dan ekresi dari makanan. (DR.Andry Hatono, PA. Nutr.2002).
Nutnisi sebagai kebutuhan dasar manusia
1) Zat makanan / nnutrien yang didapat dari pemasukan makanan akan menjadi materi-materi yang dibutuhkan oleh tubuh.
2) Nutrien sangat perlu untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan pemeliharaan serta fungsi normal dan sel tubuh.
3) Nutrien akan digunakan untuk memproduksi energi berupa ATP (Adenosin Tripospat) untuk seluruh aktivitas tubuh: pergerakan otot transmisi implus sarat proses berfikir, produksi panas semua tergantung pada energi yang diproduksi dari makan yang dikomsumsi individu.
4) Nutrien dibutuhkan untuk membuat zat-zat penting hormon dan enzim.
5) Jika tubuh mengalami kekurangan beberapa zat yang penting maka akan terjadi ketidakmampuan untuk: Tubuh, memelihara fungsi dan pergantian jaringan dan beresiko buruk bagi tubuh.
Salah satu penatalaksanaan dari diabetes mellitus yaitu pencernaan makanan, pada konsenstis perkumpulan Endrokrionologi Indonesia (PERKENI) telah ditetapkan bahwa standar yang dianjurkan adalah santapan dengan komposisi seimbang berupa karbohidrat (60-70%), protein (10-15) dan lemak (20-25).
Apabila diperlukan santapan dengan komposissi karbohidrat sampai 70 -75%. Juga memberikan hasil yang baik, terutama untuk golongan ekonomi rendah serat 25 g/hari.
Jurnlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stress akut dan untuk mencapai berat badan ideal konsensus pengelolaan DM di Indonesia.
- Karbohidrat = 60-70%
- Protein = 10-15%
- Lemak = 20-25%
- Kolesterol = <300 serat =" 25">200mg/dl, dikonfirmasikan pada hari yang berbeda dengan:
1. Kadar glukosa plasma puasi >126 mg/dl
2. Glukosa 2 jam PP >200mg/dl dengan TTG >200mg/dl baru dapat dikatakan seagai diabetes mellitus.

5) Penatalaksanaan
Dalam jangka pendek penatalaksanaan DM bertujuan untuk menghilangkan keluhan atau gejala. Sedangkan tujuan jangka panjang adalah untuk mencegah komplikasi akut dan kronik.





Kriteria pengendalian DM
Baik Sedang Buruk
Glukosa darah plasma
Vena
- Puasa 80-109 110-139 >, 140
- 2 jam 110-159 160-199 >, 200
HBAK % 4-6 6-8 > 8
Kolesterol total (mg/dl) <> 240
Kolesterol LDL
- Tanpa PJK <>, 16
- Dengan PJK <>, 130
Kolesterol HDL (mg/dl) > 45 35-45 > 35
Trigliserida (mg/dl)
- Tanpa PJK <> 250
- Dengan PJK <>, 200
BMI/IMT
- Perempuan 18,5-23,9 23-25 > 425 / <18,5> 27 / <20> 160/95

Ada 4 komponen dalam penatalaksanaa diabetes mellitus:
a. Diet
1. Komposisi makanan:
a. Karbohidrat = 60-70%
b. Protein = 10-15%
c. Lemak = 20-25%
d. Kolesterol = <300 serat =" 25"> 110%
 Obesitas : BBR> 110%
- Obesitas ringan : 120% - 130 %
- Obesitas sedang : 130% - 140%
- Obesitas berat : 140 % - 200 %
- Obesitás morbit : > 200 %
Jumlah kalori yang diperlukan sehari untuk penderita diabetes mellitus yang bekerja biasa adalah:
 Kurus : BB x 40-60 kalori / perhari
 Normal (ideal) : BB x 20 kalori / perhari
 Gemuk : BB x 20 kalori / perhari
 Obesitas : BB x 10-15 kalori / perhari
Dra. Andry Hartono, P.A .Nutr (2002)
b. Latihan Jasmani
a) Latihan kontinyu
Contoh : Jogging 30 menit tanpa istirahat

b) Latihan ritmis
Contoh : Jalan kaki berlari, berenang, bersepeda mendayung.
c) Latihan interval
Contoh : Jalan kaki diselingi jalan lambat, berenang cepat-cepat panjang kolom diselingi 1 kali renang lambat
d) Latihan progresif
Latihan yang dilakukan harus berangsur-angsur dari sedikit ke latihan yang lebih berat.

e) Latihan daya tahan
Untuk melatih daya tahan memperbaiki system kardovaskuler.

c. Penyuluhan
Dilakukan pada kelompok dengan resikotinggi
1. Umur di atas 45 tahun
2. Kegemukan > 120 % BB idaman atau (MT > 27 kg/m
3. Hipertensi >140/90 mmHg
4. Riwayat Keluarga Diabetes Mellitus
5. Dislidemia, HDR <35>250 mg/dl
6. Para TGT atau GPPT (TGT > 140 mg/dl), glukosa plasma kuasa derange (GPPT > 100 mg/dl dan lebih banyak <>65 mg/dl
Cholesterol LDL 96 mg/dl >130 mg/dl

Hasil pemeriksaan tanggal 12 Juli 2008
Laboratorium Hasil Normal
GDS 348 mg/dl >140 mg/dl

Hasil pemeriksaan tanggal 13 Juli 2008
Laboratorium Hasil Normal
GDS 361 mg/dl >140 mg/dl

Hasil pemeriksaan tanggal 01 Juli 2008
Laboratorium Hasil Normal
WBC 13,5 H 103 / mm2 4,0 – 10,0
RBC 3,82 L 103 / mm2 4,00 – 6,0
HGB 9,3 lg/dl 12,0 – 1,0
HCT 29,6 L % 37,0 – 48,0
PLT 318 H 103 / mm2 150 – 400
PCT 248 % 100 – 500
MCV 78 L. FL 80 – 97
MCH 24,3 LPG 26,5 – 33,5
RDW 14,2 % 10,0 – 15,0
MPV 7,8 FL 6,5 – 11,0
PDW 13,5 % 10,0 – 18,0
LIM 10,3 L % 20,0 – 40,0
MO 4,5 % 2,0 – 8,0
GRA 85,2 H % 53,0 – 80,0


Hasil pemeriksaan tanggal 16 Juli 2008
Laboratorium Hasil Normal
Triglyceriade 199 mg/dl 200 mg/dl
GDP 412 mg/dl 110 mg/dl
Glubolin 1,6 mg/dl 1,5 – 5 mg/dl
Cholesterol Total 146 mg/dl 200 mg/dl
Cholesterol HDL 24 > 65 mg/dl
Cholesterol LDL 80 < equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8">

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan menggunakan beberapa kesenjangan yang terjadi antara konsep dan teori yang didapatkan pada diabetes mellitus tipe II yang dirawat di ruangan Interna Lontara I RS.DR. Wahidin Sudirohusodo Makassar.

Dalam asuhan keperawatan pada Ny. “S” dengan gangguan system endokrin DM tipe II, telah diupayakan pemberian asuhan keperawatan yang komprehensif yang didasari oleh pendekatan-pendekatan yang dilakukan secara sistematis melalui tahapan proses keperawatan yaitu pengkajian diagnosa, perencanaan pelaksanaan dan evaluasi.

A. Pengkajian

Dalam tahap pengkajian yang dilakukan penulis terhadap klien Ny “S” yang dirawat di ruang interna atas sesuai dengan tahapan pengkajian yang ada dalam teori yaitu mulai tahapan pengumpulan, pengelompokan data, analisa data dan perumusan diagnosa keperawatan.

Data yang dikumpulkan berasal dari klien, keluarga, tenaga kesehatan, catatan medis klien. Adapun cara yang digunakan dalam memperoleh data dengan observasi, wawancara, pemeriksaan fisik dan catatan medik klien.

Berdasarkan teori (Brunner and Suddarth, 2002) data yang umumnya didapatkan pada klien dengan diabetes mellitus antara lain poliura, polidipsi, polipagi dan pengkajian gejala, yaitu kelainan kulit, gatal-gatal, bisul-bisul, kesemutan, rasa pegal, kelemahan tubuh, luka atau bisul yang tidak bisa sembuh dan infeksi saluran kemih.

KONSEP KEPERAWATAN

(Perbandingan Teori Dengan Kasus)

a. Aktivitas istirahat

Teori :Lemah, letih, sulit bergerak/ berjalan, keram otot,

tonus otot menurun, gangguan pola tidur

Kasus Tn “H” :Lemah, sulit bergerak, tonus otot menurun pada Tn“H”

ada gangguan pada tidur

b. Sirkulasi

Teori : Kesehatan pada ekstremitas, ulkus pada kaki,

penyembuhan yang lama, hipertensi, takikardi, nadi

menurun

Kasus Tn “H” : Kesemutan pada ekstremitas, terdapat ulkus pada kaki

kanan, tekanan darah normal dan terjadi peningkatan

nadi

c. Intergritas ego

Teori : Stress, peka rangsangan

Kasus Tn “H” : Klien cemas

d. Eliminasi

Teori : Poliuri, nokturia, nyeri tekan abdomen, diare, perut

kembung, dan pucat

Kasus Tn “H” : Klien mengeluh banyak buang air kecil, tidak

gangguan pola eliminasi BAB.

e. Makanan/cairan

Teori : Hilang nafsu makan, mual/muntah, tidak mengikuti

diet, penurunan berat badan

Kasus Tn “H” : Nafsu makan menurun dan terjadi penurunan berat

badan.

f. Neuro sensori

Teori :pusing, sakit kepala, gangguan penglihatan,

disorientasi, mengantuk, hupor/koma

Kasus Tn “H” : Klien hanya mengeluh suka mengantuk

g. Nyeri/kenyamanan

Teori : Abdomen yang tegang dan nyeri tekan (sedang/berat)

wajah meringis

Kasus Tn “H” : Kalien Nampak meringisdan nyeri yang dirasakan

karna luka dalam pada kaki kanan

h. Pernapasan

Teori : Batuk/merasa kekurangan oksigen

Kasus Tn “H” : Tidak ada kedainan sistem pernapasan

i. Keamanan

Teori : Kulit kering, gatal, ulkus kulit, demam, menurunnya

kekuatan otot

Kasus Tn “H” : Terjadinya menurunnya kekuatan otot

j. Seksualitas

Teori : Impoten pada pria, vagina (cenderung infeksi)

Kasus Tn “H” : Klien mengeluh ada penurunan kemampuan seksual.

Data yang ditemukan pada Ny “S” didapatkan data poliuri. polidipsi, polipagi, nafsu makan menurun, kilen mengeluh konstipasi, adanya luka pada kaki kiri, KU lemah, nyeri, tekan kuadran kanan atas, kekuatan otot, tonus otot menurun, tanda-tanda vital (TD: 100/70 mmHg S: 36,50 C N : 90 x / i P : 24 x 4).

Data pada Tn “H” yaitu data yang dikemukakan pada Tn “H” keluhan utama yang ditemukan yaitu nyeri pada kaki kanan, luka, kelemahan, tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari, polidipsi, poliurin, polipagia, tanda-tanda vital (TD: 100/70 mmHg N : 90 x / i P : 24 x 4 S: 36,50 C).

B. Diagnosa Keperawatan

Sedangkan menurut Marillyn E. diagnosis (2000, hal. 726), bahwa diagnosa yang lazim muncul pada pasien, diabetes mellitus adalah ada 7, sedangkan pada Ny “S” ada 4 diagnosa dan pada Tn “H” ada 5 diagnosa yaitu:

Diagnosa keperawatan yang timbul berdasarkan teori:

  1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan hyperlekimia, diuresis osmotic, diare, muntah masukan dibatasi.
  2. Nutrisi perubahan : kurang dan kebutuhan berhubungan dengan ketidakcukupan insulin, penurunan masukan oral.
  3. Infeksi, resiko tinggi terhadap sepsi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penurunan leukosit, perubahan pada sirkulasi.
  4. Perubahan sensorik pernapasan perceptual berhubungan dengan perubahan kimía endogen. ketidakseimbangan glukosa/insulin elektrolit.
  5. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi metabolisme perubahan kimia darah.
  6. Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang ketergantungan terhadap orang lain.
  7. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), berhubungan dengan kurang mengingat, kesehatan informasi, tidak mengenal informasi.

Data yang ditemukan dalam teori tetapi tidak ditemukan dalam kasus Ny. “S” dan Tn. “H” yaitu:

1. Perubahan sensoris perseptual berhubungan dengan perubahan kimia endogen, ketidakseimbangan glukosa/insulin elektrolit.

Hal ini tidak ditemukan disebabkan karena belum adanya tanda-tanda perseptual diantaranya belum adanya penurunan ketajaman penglihatan dan belum adanya hasil pemeriksaan yang menunjang.

2. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi metabolik, perubahan kimia darah, dan infisiensi insulin.

Kelelahan tidak dimunculkan karena tidak banyak melakukan aktifitas

3. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) berhubungan dengan kurang mengingat, kesalahan informasi, tidak mengenal informasi. Hal ini disebabkan klien mengerti situasi akan keadaan penyakit tetapi tidak merasa cemas akan timbulnya komplikasi dari penyakituya.

Sedangkan diagnisa yang muncul pada kasus yaitu

a. Pada klien Ny. “S” yaitu:

1. Infeksi berhubungan dengan luka DM

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat

3. Kecamasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan

4. Aktivitas intoteran herhubungan dengan kelemahan.

b. Pada Tn. “H” yaitu:

1. Nyeri berhubungan dengan adanya luka pada kaki kanan

2. Nutrisi kurang dan kehutuhan berhubungan dengan definisi insulin, penurunan masukan oral.

3. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan

4. Intoleran aktivitas berhubungan dengan penurunan produksi energi

5. Infeksi berhubungan dengan luka DM

Kesenjangan yang terjadi antara teori dengan kasus yaitu ada diagnosa yang ditemukan dalam teori tetapi tidak ditemukan dalam kasus, sebaliknya ada diagnosa yang muncul dalam kasus tetapi tidak ditemukan dalam teori.

Diagnosa keperawatan yang ditemukan dalam kasus tetapi tidak ditemukan dalam teori yaitu:

1. Nyeri berhubungan dengan luka pada kaki kanan. Diagnosa ini tidak terdapat dalam teori, namun sesuai dengan kondisi klien yang dikemukakan baik verbal ataupun non verbal pada kasus Tn “H”. Sedangkan pada kasus Ny. “S” tidak ditemukan, ini menunjukkan adanya perbedaan kondisi luka klien, persepsi dan pengetahuan serta pengalaman yang berbeda.

2. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

Diagnosa ini ditemukan pada kasus Ny. “S”. Hal ini terjadi karena klien merasa takut dan cemas akan timbulnya komplikasi dari penyakit dan proses penyembuhan luka yang lama.

C. Intervensi Perawatan

Rencana keperawatan yang disusun pada kasus sama dengan rencana keperawatan pada teori dengan tetap menyesuaikan antara rencana dengan kondisi, fasilitas rumah sakit dan kebijakan rumah sakit.

Adapun rencana keperawatan yang diterapkan sesuai dengan diagnosa keperawatan pada kasus diabetes mellitus yaitu:

  1. Diagnosa Pertama

Untuk perencanaan diagnosa pertama terjadinya intervensi yang diberikan yaitu ukur tanda-tanda vital tiap 4 jam, ganti verban tiap hari, observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan setiap ganti verban dan penatalaksanaan pemberian obat antibiotik (cefotaxime 1 tablet 12 jam / oral).

  1. Diagnosa Kedua

Untuk perencanaan diagnosa kedua nutrisi kurang, intervensi yang diberikan yaitu timbang BB, kaji intake dan output nutrisi, diet diabetes mellitus 1700 kalori, pagi, siang dan sore, berikan motivasi dan dorongan dalam pemenuhan nutrisi.

  1. Diagnosa Ketiga

Pada diagnosa ketiga intervensi yang dilakukan yaitu: kaji tingkat kecemasan, dengarkan keluhan klien, He tentang DM, berikan semangat dan motivasi dan dorongan spiritual.

  1. Diagnosa keempat

Untuk perencanaan diagnosa keempat aktivitas, intervensi yang diberikan yaitu pantau kelemahan dalam kemampuan beraktivitas. Anjurkan klien untuk mengentikan aktivitas bila terasa sakit, anjurkan klien untuk melakukan pergerakan aktif dan pasif.

D. Implementasi

Tindakan yang dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah disusun berdasarkan masalah keperawatan yang ditemukan dalam kasus dengan menetapkan waktu pelaksanaan dan respon klien.


E. Evaluasi

Evaluasi keperawatan antara teori dan kasus mengacu pada kriteria tujuan. Evaluasi keperawatan dilakukan dengan evaluasi SOAP selama tiga hari. Dari diagnosa keperawatan yang ditemukan dalam kasus sampai dengan hari ketiga diagnosa keperawatan yang teratasi dan tiga diagnosa keperawatan yang belum teratasi.

Diagnosa yang teratasi yaitu kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan

Dagnosa yang belum teratasi:

1. Infeksi berhubungan dengan luka DM

2. Nutrisi kurang berhubungan dengan intake tidak adekuat

3. Aktivitas intoleran berhubungan dengan penurunan produksi energi

Adapun faktor yang menghambat sehingga diagnosa tersebut belum teratasi adalah :

a. Penyakit klien membutuhkan pengobatan dan perawatan yang sama sedangkan waktu yang diberikan untuk kontak dengan klin sangat singkat, hanya tiga hari untuk pencapaian tujuan.

b. Adanya keterbatasan fasilitas rumah sakit sehingga perawatan yang diberikan tidak intensif.

c. Keterbatasan penulis dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif.

Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan petugas kesehatan yang ada di ruangan dapat mengikuti perkembangan kondisi klien sehingga masalah keperawatan yang dialami oleh klien dapat teratas sesuai tujuan yang diharapkan.


BAB V

P E N U T U P

Setelah penulis membahas tinjauan kasus pada Ny “S” gangguan system Endokrin Diabetes Mellitus di Lontara I interna bawah RS.DR. Wahidin Sudirohusodo tanggal 14-16 Juli 2008 maka penulis mengemukakan beberapa kesimpulan dan saran

A. KESIMPULAN

a. Diabetes meliltus merupakan suatu penyakit kronik yang menimbulkan gangguan multisistem yang disebabkan oleh delisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat.

b. Dalam melakukan pengkajian Ny “S” dengan menggunakan pendekatan bio, psiko, sosial dan spiritual. Dalam pengkajian terdapat kesenjangan teori dan kasus nyata hal ini menunjukan ha hwa manusia adalah makhluk yang unik dan dibutuhkan ketentuan untuk menganalisa berdasarkan untuk mendapatkan suatu data yang akurat dalam menegakkan suatu diagnosa.

c. Rencana tindakan adalah rencana yang ditegakkan oleh perawat untuk membantu klien dalam tencana tindakan keperawatan yang mengacu pada diagnosa yang didapatkan.

d. Implementasi dilaksanakan berdasarkan perencanaan yang telah direncanakan namun dakam pelaksanaan penulis menyesuaikan dengan situasi, kondisi dan kehutuha klien.

e. Pada evaluasi keperawatan hanya satu masalah keperawatan yang teratasi dan tiga masalah belum teratasi. Hal ini disebabkan karena waktu yang diberikan untuk kontak dengan klien sangat singkat hanya tiga hari yang dimulai dari jam 07.00 sampai jam 19.00 wita untuk mencapai peneapaian tujuan dan empat masalah keperawatan yang didapatkan dari klien dan keterbatasan kemampuan penulis dalam memberikan asuhan yang komprehensif dan terbatasnya fasilitas rumah sakit yang mendukung pelaksanan keperawatan.

B. SARAN

1. Diharapkan kepada semua tenaga kesehatan / tim medis khususnya perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan proses keperawatan dan tetap memegang konsep teori yang ada untuk mengidentifikasi kebutuhan klien khususnya diabetes mellitus.

2. Diharapkan kepada semua tenaga kesehatan / tim medis khsusnya perawat, mendapat gambaran nyata tentang diabetes mellitus.

3. Diharapkan kepada semua tenaga kesehatan / tim medis khususnya perawat dapat melakukan teknik pengkajian dengan baik dan benar.

4. Diharapkan kepada semua tenaga kesehatan / tim medis khususnya perawat mampu menetapkan rencana tindakan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.

5. Diharapkan kepada semua tenaga kesehatan / tim medis khususnya perawat dapat melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.



Minggu, 02 November 2008

PES/ Penyakit Menerjang Tulang

BAB I
PENDAHULUAN.

Tujuan pembangunan dibidang kesehatan ialah memperbaiki tingkat kesehatan rakjat terutama bags rakjat pedesaan. Dengan perbaikan kesehatan rakjat tersebut diharapkan pro¬duktivitas kerdja akan meningkat dan dengan demikian mem¬bantu proses ladju pembangunan. Perbaikan kesehatan rakjat merupakan salah satu investasi dalam manusia (human invest¬ment) jang tjukup panting dalam pembangunan.
Pelajanan kesehatan diselenggarakan oleh pemerintah mau¬pun masjarakat. Dalam lingkungan pemerintah dilaksanakan pelajanan kesehatan jang terintegrasikan. Pelajanan kesehatan oleh masjarakat pada achir-achir ini djuga menundjukkan per¬kembangan jang meningkat, balk jang dilakukan oleh organi asi masjarakat maupun oleh perusahaan-perusahaan untuk karyawan-karyawan mereka sendiri.
Kesehatan masyarakat telah dibentuk pada tahun 1971/72. Sehingga dengan demikian dewasa ini unit kesehatan masyarakat tersebar diberbagai pro- ¬pinsi. Lima belas orang tenaga spesialis pendidikan ke¬sehatan masjarakat telah dididik, dimana lima orang diantara¬-nya telah dikirim keluar negeri. Disamping itu telah ditingkatkan pengetahuan dan ketrampilan sebanjak 228 orang petugas-petu¬gas kesehatan.


BAB I
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Pes yaitu penyakit yang telah menerjang daerah Tulangan yang disebabkan oleh kutu atau tikus. Setiap hari orang bergelimpangan mati.. Klinik Tulangan, yang terdiri hanya dari satu ruangan tiga kali empat meter itu, tidak berdaya. Setelah pagi menguburkan tetangga orang pun terguling dan ikut mati.
Wabah pes atau sampar yang melanda salah satu daerah pada permulaan abad ke-20. Cerita itu memang karangan Pramoedya Ananta Toer di dalam salah satu karya tetraloginya, Anak Semua Bangsa. Meskipun demikian, Pramoedya tidak mengambil inspirasi cerita itu dari negeri antah-berantah. Sebaliknya, tuturan Pramoedya itu sesungguhnyalah terjadi di bumi Nusantara ini.
Dahsyatnya wabah pes yang terjadi sekitar tahun 1910-1918 telah mendorong pemerintah kolonial”melalui Commissie voor de Volkslectuur (Komisi Batjaan Ra’jat) yang kemudian menjadi Balai Pustaka—menerbitkan buku berjudul Penjakit Pest Ditanah Djawa dan Daja Oepaja akan Menolak Dia, yang ditulis oleh DR OLE de Raadt dan dibahasa Melayukan oleh KP Ardiwinata.
Tentang penyakit lainnya seperti cacar dan kolera. Buku-buku itu dicetak di Betawi oleh percetakan gubernemen pada tahun 1915. Pada saat bersamaan, buku itu juga diterbitkan dalam bahasa Jawa, Sunda, dan Belanda. Dengan kenyataan bahwa sebagian besar korban adalah rakyat bumiputra di Jawa yang tidak berbahasa Belanda ataupun Melayu, maka dapat dipahami penerbitan buku tersebut dalam bahasa Jawa dan Sunda.


B. Informasi Tentang Pes
Seperti hal penyakit lainnya, pes ini berisi merupakan penyakit yang menjalarnya wabah tersebut. Dimana Pertama-tama dijelaskan mengenai penyakit pes, cara berjangkitnya penyakit ini, dan sekaligus cara mencegah menjalarnya wabah ini. Diuraikan di situ bahwa penyakit pes disebabkan oleh kuman atau kutu yang ada di dalam darah orang atau tikus yang terjangkit pes. Kutu tersebut bisa berpindah ke orang atau binatang lain dan menggigit mereka. Saat menggigit itulah, kuman pes berpindah dari orang yang sakit pes ke orang yang sehat. Adapun jenis penyakit pes yang mewabah adalah pes kelenjar atau builenpest dengan tanda-tanda awal demam, sakit kepala, dan bengkak yang menyakitkan di ketiak atau di belakang telinga. Jenis ini akan mematikan penderita dalam hitungan dua-tiga hari saja.
Mencegah penyebaran kutu atau kuman pes. Dikatakan bahwa yang harus dilakukan pertama adalah memperbaiki rumah karena rumah yang kotor menjadi tempat tinggal menyenangkan bagi tikus dan kutu-kutunya. Rumah-rumah tidak boleh dibangun secara berdempetan, apalagi bersesak-sesakan di sebuah area. Pada masa itu, rumah rakyat sebagian besar dibangun dari bambu atau gedek. Dinding-dinding gedek itu sering kali dibikin rangkap sehingga di antaranya terdapat celah atau lubang yang memungkinkan tikus bersarang. Oleh karena itu, disarankan agar dinding cukup satu lapis saja. Kalaupun harus dibangun rangkap, maka dinding bagian dalamnya harus dibikin agar mudah dibuka dan dibersihkan.
Tubuh marmot menjadi tempat yang mudah dihinggapi kutu-kutu tikus sehingga manusia bisa terhindar dari gigitan kutu tikus tersebut. Marmot yang telah kena gigitan niscaya akan mati dan ini menjadi pertanda bagi orang bahwa penyakit pes telah menyerang. Dengan pertanda awal ini, manusia bisa segera menyingkir dari area tersebut sehingga korban manusia dapat diminimalkan.
C. Konteks kolonialisme
Penyakit ini dapat dibaca sebagai upaya pemerintah kolonial mencegah menjalarnya wabah tersebut. Beberapa penyakit ini menjadi wabah yang menakutkan karena mengambil banyak nyawa rakyat bumiputra di Jawa. Seperti yang terungkap dari tulisan Darsono berjudul Giftige Waarheidspijlen (Panah Pengadilan Beracun) di koran Sinar Hindia, 18 Mei 1918. Di surat kabar yang merupakan organ Sarekat Islam Semarang itu tercantum data-data sebagai berikut.
Gambaran di atas menunjukkan betapa wabah pes telah mengakibatkan angka kematian yang terus melonjak bahkan hingga enam kali lipat dalam setahun di wilayah Mranggen dan rata-rata 3-5 kali lipat di wilayah lainnya di Semarang. Wabah pes pun tidak hanya menyerang Semarang, tetapi juga wilayah-wilayah lainnya di Jawa, seperti Solo dan Malang.
Namun, membaca buku-buku tersebut semata sebagai upaya pemerintah kolonial mencegah menjalarnya wabah penyakit pada gilirannya akan menenggelamkan situasi riil yang terjadi di masyarakat Hindia Belanda saat buku tersebut terbit. Atau lebih jelasnya, pembacaan seperti itu akan mengaburkan sebab-musabab meluasnya wabah pes di Jawa saat itu. Oleh karena itu, pembacaan buku ini harus disertai dengan penjabaran konteks sosial kolonialisme Belanda di akhir abad ke-19 dan paruh pertama abad ke-20.
Selama Tanam Paksa, mereka tidak dapat menanami sawah atau ladang mereka sendiri karena waktu dan tenaga mereka terkuras untuk mengerjakan tanah gubernemen dan tanaman untuk ekspor, seperti tebu, tembakau, nila, teh, sutra, atau kapas. Akibatnya, mereka tidak dapat memanen garapannya. Beberapa penduduk desa bahkan lari meninggalkan kampung halamannya untuk menghindari kerja paksa ini, sehingga beberapa desa tidak lagi berpenghuni. Kondisi ini tentu saja membuat rakyat tidak mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup. Tak mengherankan jika kemudian kelaparan banyak terjadi di Jawa. Kondisi ini tidak berubah banyak meskipun Tanam Paksa telah dihapuskan tahun 1870.
Kemiskinan ini juga membawa implikasi kepada kondisi kesehatan dan pendidikan rakyat. Seperti terungkap di dalam buku karya Soe Hok Gie, Di Bawah Lentera Merah, perumahan rakyat di kampung-kampung sangat buruk. Mereka tinggal di gang-gang sempit, berjejal, dan becek. Keadaan berjejal ini membuat sinar matahari enggan masuk ke dalam ruangan rumah dan menjadi sarang tikus. Inilah konteks meluasnya wabah pes di Hindia Belanda antara tahun 1910-1918.
Ilustrasi kemiskinan itu terungkap dalam tulisan Marco Kartodikromo di jurnal Doenia Bergerak yang diterbitkan pertama kali oleh Inlandsche Journalisten-Bond di Solo pada 31 Januari 1914, Orang-orang ketjil kebanjakan hidoepnja: sehari makan sekali, jang sedikit mampoe bisa makan nasi, tetapi jang tiada mampoe makan pohong dan djagoeng sadja. Perkara ikan tida sekali-kali dipikirkannja, asal ada garam dan tjabe-rawit soedah tjoekoep. Dari hal pakaian orang-orang desa djarang jang poenja sampe tiga ataoe doea stel: satoe kain kepala, satoe badjoe, dan satoe kain atau saroeng. Kebanjakan marika itoe hanja mempoenjai koerang lebih sedikit: satoe katok, satoe kain boeat kemoel, satoe badjoe soedah toea dan satoe kain kepala djoega soedah robek.
Dengan demikian, Bagaimana mungkin dapat memperbaiki rumah yang menjadi sumber wabah kalau kemiskinan begitu mendera mereka?
Beberapa laporan surat kabar bumiputra menyebutkan bahwa pemerintah kolonial membuat aturan-aturan yang menyengsarakan rakyat untuk mencegah wabah pes ini. Seperti dilaporkan koran Sinar Hindia, 18 Mei 1918, bahwa banyak rumah bumiputra yang terjangkit pes yang dirombak dengan tidak mendapat ganti untuk membangunnya lagi.
Atau menurut surat kabar Darmokondo yang terbit di Solo, bumiputra yang terjangkit pes dan merombak rumahnya boleh meminjam uang dari Woning Verbetering (lembaga yang mengurusi perbaikan rumah) untuk mendirikan rumah sesuai aturan kesehatan. Akan tetapi, bila si peminjam ini tidak dapat membayar kembali, maka ia akan menerima rupa-rupa siksaan.
Sebenarnya ada cara lebih modern yang bisa dipakai untuk mencegah meluasnya wabah pes ini, yaitu melalui suntikan serum kepada rakyat yang belum terkena pes. Akan tetapi, cara ini sama sekali tidak disebut dalam buku ini. Dapat diduga penyebabnya adalah cara ini membutuhkan biaya mahal: menyediakan serum dan mendistribusikannya untuk sekian juta rakyat di Jawa. Pemerintah kolonial tidak mau membuang uangnya untuk keselamatan sebagian besar bumiputra. Daripada mengeluarkan uang untuk serum, lebih baik menyuruh bumiputra memelihara marmot!
Gambaran di atas memperlihatkan watak kolonial dari penerbitan buku tentang pes ini. Sistem kolonial melahirkan kemerosotan ekonomi luar biasa bagi bumiputra. Porak porandanya kehidupan ekonomi rakyat bumiputra merupakan penyebab utama meluasnya wabah pes. Oleh karena itu, sesungguhnya perbaikan kehidupan ekonomi rakyat bumiputralah yang pertama-tama harus dilakukan oleh pemerintah kolonial untuk mencegah wabah pes. Kenyataannya, seperti ditulis Darsono di dalam surat kabar Sinar Hindia, 18 Mei 1918, Doenia semangkin lama semangkin madjoe, kaoem kapitalisten Belanda kaoentoengannja semangkin tambah. Bagi bumiputera, semangkin tambah djoega kematian di antara bangsa kita.

BAB III
PENUTUP

 Pes yaitu penyakit yang telah menerjang daerah Tulangan yang disebabkan oleh kutu atau tikus
 Penyakit Pes dengan tanda-tanda awal demam, sakit kepala, dan bengkak yang menyakitkan di ketiak atau di belakang telinga. Jenis ini akan mematikan penderita dalam hitungan dua-tiga hari saja.



PUSTAKA

1. http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0507/16/pustaka/1898788.htm
2. http://library.usu.ac.id/download/fk/psikologi-Gustiarti.pdf
3. http://www.wikipedia.penyakit.co.id/
4. http://www.penyakit.menular.com/

STRES

BAB I
PENDAHULUAN

Bagi masyarakat pada era industrialisasi sekarang ini, pekerjaan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat penting. Bagi masyarakat modern bekerja merupakan suatu tuntutan yang mendasar, baik dalam rangka memperoleh imbalan berupa uang atau jasa, ataupun dalam rangka mengembangkan dirinya. Pada kenyataannya, sebagian besar pekerjaan cenderung memiliki konotasi paksaan, baik yang ditimbulkan dari dalam diri sendiri ataupun yang ditimbulkan dari luar. Pekerjaan juga seringkali meliputi penggunaan waktu dan usaha di luar keinginan individu pekerja. Banyak pekerja yang melakukan pekerjaan rutin, yang tidak atau hanya sedikit menuntut inisiatif dan tanggungjawab, dengan sedikit harapan untuk maju atau berpindah kejenis pekerjaan lain. Banyak juga pekerja yang melakukan tugas yang berada jauh dibawah kemampuan intelektual mereka atau yang mereka anggap berada dibawah tingkat pendidikan yang telah mereka peroleh. Di banyak sektor industri, pekerjaan telah sangat ‘dirasionalisasikan’, dipecah-pecah kedalam tugas-tugas yang sederhana, menoton, dan menjemukan, yang hanya sesuai bagi robot yang tidak dapat berpikir.
Pada level organisasi yang lebih tinggi, tingkat manajer atau supervisor, perkembangan teknologi dan industrialisasi yang pesat menuntut adanya kemampuan managerial dan intelektual yang lebih baik, yang terkadang melampaui kemampuan yang dimiliki sebahagian besar individu. Dengan adanya teknologi yang lebih baik maka arus komunikasi dan proses produksi akan berjalan lebih cepat sehingga seorang manager dapat menjadi demikian sibuknya dan dibebani pekerjaan yang memerlukan penyelesaian dengan segera. Pada penyelesaian (supervisor) terjadi benturan antara dua tuntutan yang berbeda, disatu pihak ia harus memperhatikan penyelesaian tugas yang berbatas waktu dan dilain pihak ia harus juga memperhatikan pembinaan hubungan baik dengan bawahan-bawahannya.
Keadaan-keadaan diatas, baik bagi pekerjaan maupun bagi pihak manajer dan penyelia, menimbulkan perasaan tegang dalam diri mereka akibat faktor-faktor samar yang mengancam, baik yang bersifat sosial, managerial, ataupun yang berkaitan dengan lingkungan kerja yang tidak dapat diatasi. Keadaan tegang ini sesuai dengan konsep stres yang dikemukakan oleh Pearlin, Liebermen, Managhan, dan Mullan (Breznitz, & Golberger, 1982, hal 369) yang menyatakan :
Stress refer to a response of the organism to a noxious or theartening condition.
Teknologi dan industrialisasi yang pesat juga mencipta-kan suatu perubahan yang penting dalam sifat ancaman dan stres itu sendiri. Bagi manusia yang hidup dijaman yang masih primitif, ketegangan itu suatu keadaan yang masih mudah ditentukan sebab musababnya dan dapat dengan jelas dikenali, walaupun mengancam langsung kehidupan tetapi sekurang-kurangnya gamblang untuk dihadapi. Manusia jaman dulu dapat menanggapi ketegangan dengan tindakan yang konkrit berupa perilaku fisik yang relevan dengan ancaman fisik yang dihadapinya, sehingga dampak lanjutan dari ketegangan tersebut dapat dihindari.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian Stres

Berbagai defenisi mengenai stres telah dikemukakan oleh para ahli dengan versinya masing-masing, walaupun pada dasarnya antara satu defenisi dengan defenisi lainnya terdapat inti persamaannya. Selye (1976) mendefinisikan stres sebagai ‘the nonspesific response of the body to any demand‘, sedangkan Lazarus (1976) mendefinisikan ‘stress occurs where there are demands on the person which tax or exceed his adjustive resources’ (Golberger & Breznitz, 1982, hal. 39). Dari kedua defenisi diatas tampak bahwa stres lebih dianggap sebagai respon individu terhadap tuntutan yang dihadapinya. Tuntutan-tuntutan tersebut dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu tuntutan internal yang timbul sebagai tuntutan fisiologis dan tuntutan eksternal yang muncul dalam bentuk fisik dan social. Hans Selye juga menambahkan bahwa tidak ada aspek tunggal dari stimulus lingkungan yang dapat
Mengakibatkan stres, tetapi semua itu tergabung dalam suatu susunan total yang mengancam keseimbangan (homeostatis) individu.
Hans Selye (1950) mengembangkan konsep yang dikenal dengan Sindrom Adaptasi Umum (General Adaptation Syndrome) yang menjelaskan bila seseorang pertama kali mengalami kondisi yang mengancamnya, maka mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) pada tubuh diaktifkan. Kelenjar-kelenjar tubuh memproduksi sejumlah adrenalin cortisone dan hormon-hormon lainnya serta mengkoordinasikan perubahan-perubahan pada sistem saraf pusat. Jika tuntutan-tuntutan berlangsung terus, mekanisme pertahanan diri berangsur-angsur akan melemah, sehingga organ tubuh tidak dapat beroperasi secara adekuat. Jika reaksi-reaksi tubuh kurang dapat berfungsi dengan baik, maka hal itu merupakan awal munculnya penyakit “gangguan adaptasi”. Penyakit-penyakit tersebut muncul dalam bentuk maag, serangan jantung, tekanan darah tinggi, atau keluhan-keluhan psikosomatik lainnya.
B. Tahapan-tahapan proses stres
1. Stage of Alarm

Individu mengidendentifikasi suatu stimulus yang memba-hayakan. Hal ini akan meningkatkan kesiapsiagaan dan orientasinyapun terarah kepada stimulus tersebut.
2. Stage of Appraisals

Individu mulai melakukan penilaian terhadap stimulus yang mengenainya. Penilaian ini dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman individu tersebut.
C. Tahapan penilaian
a. Primary Cognitive Appraisal

Adalah proses mental yang berfungsi mengevaluasi suatu situasi atau stimulus dari sudut implikasinya terhadap individu, yaitu apakah menguntungkan, merugikan, atau membahayakan individu tersebut.
b. Secondary Cognitive Appraisal

Adalah evaluasi terhadap sumber daya yang dimiliki individu dan berbagai alternatif cara untuk mengatasi situasi tersebut. Proses ini dipengaruhi oleh pengalaman individu pada situasi serupa, persepsi individu terhadap kemampuan dirinya dan lingkungannya serta berbagai sumberdaya pribadi dan lingkungan.
3. Stage of Searching for a Coping Strategy

Konsep ‘coping’ diartikan sebagai usaha-usaha untuk mengelola tuntutan-tuntutan lingkungan dan tuntutan int internal serta mengelolah konflik antara berbagai tuntutan tersebut. Tingkat kekacauan yang dibangkitkan oleh satu stresor (sumber stres) akan menurun jika individu memiliki antisipasi tentang cara mengelola atau menghadapi stresor tersebut, yaitu dengan menerapkan strategi ‘coping’ yang tepat. Strategi yang akan digunakan ini dipengaruhi oleh pengalaman atau informasi yang dimiliki individu serta konteks situasi dimana stres tersebut berlangsung.
4. Stage of The Stress Response

Pada tahap ini individu mengalami kekacauan emosional yang akut, seperti sedih, cemas, marah, dan panik. Mekanisme pertahanan diri yang digunakan menjadi tidak adekuat, fungsi-fungsi kognisi menjadi kurang terorganisasikan dengan baik, dan pola-pola neuroendokrin serta sistem syaraf otonom bekerja terlalu aktif. Reaksi-reaksi seperti ini timbul akibat adanya pengaktifan yang tidak adekuat dan reaksi-reaksi untuk menghadapi stres yang berkepanjangan.
Dampak dari keadaan ini adalah bahwa individu mengalami disorganisasi dan kelelahan baik mental maupun fisik.
Disamping membagi stres kedalam tahap-tahap diatas, Lazarus juga membedakan istilah-istilah harm-loss, threat, dan challenge. Harm-loss dan threat memiliki konotasi negatif. Keduanya dibedakan berdasarkan perspektif waktunya. Harm-loss digunakan untuk menerangkan stres yang timbul akibat antisipasi terhadap suatu situasi. Baik stres akibat harm-loss maupun threat pada umumnya akan dapat berupa gangguan fisiologis maupun gangguan psikologis. Di lain pihak, challenge (tantangan) berkonotasi positif. Artinya, stres yang dipicu oleh situasi-situasi yang dipersepsikan sebagai tantangan oleh individu tidak diubah menjadi strain. Dampaknya tehadap tingkah laku individu, misalnya tampilan kerjanya, justru positif.
D. STRES DI LINGKUNGAN KERJA

Lingkungan kerja, sebagaimana lingkungan-lingkungan lainnya, juga menuntut adanya penyesuaian diri dari individu yang menempatinya. Dengan demikian, dalam lingkungan kerja ini individu memiliki kemungkinan untuk mengalami suatu keadaan stres. Stres kerja dapat dirumuskan sebagai suatu keadaan tegang yang dialami di dalam suatu organisasi. Stres ini dapat merupakan akibat dari lingkungan fisik, sistem dan teknik dalam organisasi, interaksi sosial interpersonal, isi atau struktur pekerjaan, tingkah laku individu sebagai anggota, dan aspek-aspek organisasi lainnya.
Secara umum terdapat tiga buah pendekatan untuk membahas masalah stres dalam ruang lingkup organisasi. Pendekatan pertama berorientasi pada karakteristik obyektif dari ber-bagai situasi kerja yang dapat menimbulkan stres. Pendekatan kedua mengacu pada karakteristik individu sebagai penyebab utama stres. Dan pendekatan ketiga meninjaunya melalui acuan interaksi antara situasi obyektif dan karakteristik individu.
Untuk menjelaskan bagaimana karakteristik-karakteristik di atas menimbulkan stres pada pekerja, berikut ini dikemu-kakan sebuah ilustrasi. Dengan adanya perkembangan teknologi, proses industri sekarang ini banyak menggunakan mesin-mesin dengan teknologi yang canggih. Mesin-mesin tersebut memiliki cara kerja yang otomatis dengan kecepatan kerjanya sendiri. Adanya keadaan ini menimbulkan perasaan tidak mengenakkan pada diri pekerja. Pertama, otomatisasi membuat pekerja hanya memiliki peranan yang relatif kecil dalam proses produksi karena sebagian besar pekerjaan telah diambil alih oleh mesin, dan ini membuat pekerja merasa kurang dihargai. Kedua, pekerja harus menyesuaikan diri dengan kecepatan kerja mesin yang seringkali membuatnya harus memusatkan perhatian secara terus-menerus, yang dapat menimbulkan keletihan baik fisik maupun mental kepada pekerja tersebut. Ketiga, keadaan inipun membuat hubungan sosial pekerja dengan pekerja lainnya menjadi berkurang karena pekerja harus memusatkan perhati-annya kepada mesin. Kesemuanya merupakan sumber stres bagi pekerja tersebut.
Contoh nyata adanya stres akibat kecepatan kerja mesin terdapat pada pekerja lini rakit (assembly line) yang menggu-nakan peralatan mekanis modern. Penelitian Hinkle pada Bell Telephone Company mendukung pernyataan di atas (Fraser, hal. 94).
Dalam kaitannya dengan karakteristik-karakteristik di atas, Kagan dan Levi (1971) menyatakan bahwa setiap individu mempunyai kemampuan genetis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dan mempunyai perilaku tertentu untuk mengata-si lingkungannya tersebut (Fraser, hal.83). Jika stimulus yang dihadapi individu tidak melebihi batas-batas ambang penyesuainnya maka individu tersebut
Tidak akan tergangggu baik fisik maupun mentalnya. Kondisi fisik/mental individu terganggu jika stimulus yang dihadapinya menuntut penyesuaian diri yang melebihi batas ambangnya sehingga ia tidak mampu lagi mengatasi lingkungannya. Jika hal ini berlangsung terus menerus akan muncul simptom-simptom stres seperti gangguan percernaan migraine, atau keluhan-keluhan psikosomatik lainnya.
1.Karakteristik Pekerja
Pendekatan ini bertolak dari pendapat bahwa individu memiliki ambang stres yang berbeda. Dengan demikian, karakteristik individu akan mempengaruhi kadar stres yang dihayatinya. Berdasarkan beberapa penelitian, faktor-faktor berikut ini dapat mempengaruhi ambang stres seseorang (Braznitz & Golberger, hal.434) :
a. Usia
b. jenis kelamin
c. kebangsaan dan suku bangsa
d. taraf hidup
e. banyaknya perubahan yang dialami semasa hidup
f. kecenderungan work addict
g. kecenderungan neurotik dan depresi
h. fleksibilitas kepribadian
i. mekanisme pertahanan diri yang dipergunakan
j. self esteem
k. makna pekerjaan bagi individu

Salah satu teori yang berlandaskan pada teori ini adalah yang diajukan oleh Rosenman dan Friedman (1974) yang menggo-longkan individu kedalam dua pola perilaku yaitu individu tipe A dan individu tipe B, yang dikaitkan dengan kerentanan individu terhadap penyakit jantung (Breznizt & Golberger, hal.547).
Individu dengan pola perilaku tipe A lebih mudah terserang penyakit jantung (CHD) terlepas dari faktor-faktor fisik dan jenis pekerjaan mereka. Dua karakteristik utama individu dengan pola perilaku tipe A adalah adanya suatu dorongan yasng besar untuk bersaing dan perasaan menetap tentang pentingnya waktu. Individu dengan pola perilaku tipe A sangat ambisius dan agresif, selalu bekerja untuk mencapai sesuatu, berlomba dengan waktu, beralih dengan cepat dari suatu pekerjaan kelain pekerjaan, dan terlibat penuh pada tugas-tugas pekerjaannya. Akibatnya, individu dengan pola perilaku tipe A selalu berada dalam keadaan tegang dan stres. Walaupun pekerjaan relatif bebas dari sumbner-sumber stres, mereka membawa stres mereka sendiri dalam bentuk pola perilakunya. Stres selalu timbul pada saat bekerja maupun pada waktu senggang mereka.
Individu dengan pola perilaku tipe B mungkin sama ambisiusnya dengan individu tipe A, tetapi mereka lebih santai dan menerima situasi seadanya. Individu tipe B beker-ja dengan nyaman tanpa usaha untuk memerangi situasi ynag mereka hadapi secara kompetitif. Dalam menghadapi tekanan waktu, sikap mereka lebih santai sehingga jarak mengalami masalah-masalah yang berhubungan dengan stres dan tegang. Dengan demikian individu tipe B dapat bekerja sebaik yang dilakukan oleh tipe A tetapi lebih sedikit mengalami akibat-akibat yang menyakitkan dari stres.
Sebenarnya, pembagian pola perilaku ini tidak menun-jukkan ciri kepribadian yang statis, akan tetapi lebih meng-gambarkan gaya perilaku yang disertai dengan beberapa reaksi kebiasaan seseorang dalam menghadapi situasi disekitarnya. House (1973) menambahkan bahwa ciri psikis utama individu tipe A adalah keinginan untuk mencapai prestasi sosial (social achievement) yang dapat dianalogikan dengan
Mencari status (status seeking). Glass (1977) menduga bahwa faktor utama yang menyebabkan timbulnya pola perilaku tipe A adalah keinginan atau obsesi untuk mengendalikan lingkungan. Dengan demikian, permasalahan yang dihadapi oleh individu tipe A pada tidak bisa tidak melakukan sesuatu sama sekali (inactivity). Individu tipe A akan menghayati stres yang relatif lebih besar jika mereka dibiarkan tanpa diberikan pekerjaan atau aktivitas.
2. Pendekatan Interaksi
Teori-teori yang didasari oleh pendekatan ini berpenda-pat bahwa stres tidak semata-mata disebabkan oleh situasi lingkungan kerja atau semata-mata oleh karakteristik pekerja yang bersangkutan melainkan oleh interaksi antara kedua faktor tersebut. Berdasarkan pendekatan interaksi ini, Cox dan Mackay (1979) mengatakan bahwa stres merupakan hasil penafsiran seseorang mengenai keterlibatannya dalam lingkung-annya, baik secara fisik maupun secara psikososial. Stres atatu ketegangan timbul sebagai suatu hasil ketidakseim-bangan antara persepsi orang tersebut mengenai tuntutan yang dihadapinya dan persepsinya mengenai kemampuannya untuk menanggulangi tuntutan tersebut (Fraser, hal. 80). Ini berar-ti bahwa tidak ada stresor yang berifat universal. Stimulus yang sama dapat menyebabkan intensitas stres yang berbeda atau bahkan tidak menyebabkan stres sama sekali pada individu yang mempersepsi dirinya mampu menghadapi stres tersebut. Dengan demikian, yang menjadi pokok bahasan adalah persepsi individu terhadap situasi dan partisipasi aktif individu dalam interaksi yang berlangsung. Dengan perkataan lain, cara individu menghadapi stres lebih penting daripada frekwensi dan kadar stres itu sediri.
Salah satu model teori interaksi yang cukup populer berasal dari French (1982), yang disebutnya “the Person Enviromental fit Model”. Menurut French, stress terdapat pada kotak G dalam model P-E nya, yaitu sebagai “Subjective Person-Environment Fir”. Dalam hal ini, konsep stress dari Mc.Grath, yang menekankan masalah persepsi.
Seperti yang digambarkan dalam model P-E stress tidak timbul akibat stressor lingkungan semata melainkan merupakan hasil persepsi individu terhadap kemampuan dan motivasinya untuk menghadapi stressor tersebut. Faktor persepsi dalam model tersebut merupakan faktor yang paling menentukan bobot stres dari suatu situasi.
Dalam model P-E tersebut, persepsi individu dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan (Objective Social Environment) dan karakteristik individu (Objective Person). Dengan demi-kian jika salah satu dari kedua hal ini berubah, persepsi individu pun akan berubah, sehingga pada akhirnya bobot stres yang dihayati akan berubah pula.
French juga mengemukakan bahwa stress yang dipersepsi dapat dikurangi melalui dua mekanisme, yaitu “Social Support” dan “Ego Defence”. Artinya, jika individu memperoleh dukungan sosial yang memadai dari lingkungan dan/atau menggunakan ego defence yang tepat, stress dapat menurun intensitasnya.
E. KEPUASAN KERJA

Kepuasan kerja akhir-akhir ini semakin terasa penting artinya dalam lingkup organisasi. Kepuasan kerja mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap produktivitas organisasi baik secara langsung ataupun tidak langsung. Ketidakpuasan merupakan titik awal dari masalah-masalah yang muncul dalam organisasi, seperti kemangkiran, konflik manager-pekerja, ‘turn-over’, serta banyak masalah lainnya yang menyebabkan terganggunya proses pencapaian tujuan organisasi. Dari sisi pekerja, ketidakpuasan dapat menyebabkan menurunnya motivasi, menurunnya moril kerja, menurunnya tampilan kerja baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif.


BAB III
TINJAUAN KRITIS

Telah dikemukakan sebelumnya bahwa kepuasan kerja dapat menurunkan kadar stres dan mengurangi dampak stres tersebut terhadap diri pekerja. Berdasarkan model P-E dari French, stres muncul jika terdapat kesenjangan antara persepsi individu mengenai kebutuhan-kebutuhannya dan persepsi individu pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut dari lingkungannya, serta adanya kesenjangan antara persepsi individu mengenai tuntutan lingkungan. Kepuasan kerja, yang berarti terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pekerja, menunjukkan kesesuaian antara persepsi individu mengenai kebutuhannya dan persepsi mengenai pemenuhan kebutuhan tersebut dari lingkungan. Tampak jelas bahwa stres bahwa kepuasan kerja sendiri berarti tidak adanya stres individu.
Kepuasan kerja merupakan kondisi emosional yang positif atau menyenangkan terhadap pekerjaan, yang berarti bahwa makna pekerjaan bagi pekerja yang puas menjadi positif. Dengan adanya makna pekerjaan yang positif ini pekerja menjadi lebih siap menghadapi tuntutan-tuntutan pekerjaannya tersebut. Dengan demikian, walaupun individu dihadapkan pada pekerjaan yang mempunyai kemungkinan memberikan stres yang besar, kadar stres dan dampak stres yang dihayatinya tidaklah terlalu besar. Makna pekerjaan bagi individu merupakan sumber stres yang potensial.



BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya dapat disimpulkan hal-hal berikut :
1. Stres dan kepuasan kerja mempunyai hubungan timbal-balik. Kepuasan kerja dapat meningkatkan daya tahan individu terhadap stres dan dampak-dampak stres dan sebaliknya, stres yang dihayati oleh individu dapat menjadi sumber ketidakpuasan.
2. Kebutuhan utama pekerja pada era teknologi canggih ini adalah adanya hubungan sosial yang baik dengan pekerja lainnya dan dengan penyelia/atasan serta penghargaan terhadap prestasi kerjanya. Sehingga dengan demikian, agar kepuasan kerja dapat tercapai maka perusahaan hendaknya memperhatikan kebutuhan-kebutuhan tersebut. Pada sisi lain, adanya hubungan sosial yang baik ini dapat dipersepsi pekerja sebagi dukungan sosial yang dapat menurunkan ketegangan yang dihayatinya.
3. Usaha menurunnya stres dan dampaknya dari lingkungan pekerjaan dapat dilakukan melalui perancangan kembali pekerjaan dan memilih pekerja sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakannya. Tujuannya adalah agar pekerjaan tidak dipersepsi sebagai suatu tekanan atau sumber ketegangan oleh pekerja.
4. Dalam usaha mengurangi kadar stres dan dampaknya tersebut penyelia atau atasan dapat berperan sebagai konselor yang berusaha membantu pekerja mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya.
DAFTAR PUSTAKA


Cooper, Cary L. & Roy Payne, Stress at Work, John Wiley and Sons Ltd., New York, 1978
Fraser, T.M., Stress & Kepuasan Kerja, PT. Pustaka Binaman Pressindo, LPPM, Jakarta, 1985
Goldberger, Leo & Shlomo Breznizt, Handbook of Stress, The Free Press, New York, 1982
Landy, Frank J., Psychology of Work Behavior, 3rd edition, The Dorsey Press, USA, 1985
Milton, Charles R., Human Behavior in Organization, Prentice-Hall Inc., Englewood Cliffs, N.J., 1981
Wexley, Kenneth N. & Gary A. Yukl, Organizational Behavior and Personnel Psychology, Richard D. Irwin Inc., 1977